Facebook Twitter Google RSS
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, June 8, 2015

Sebatang Pohon Cinta

Unknown     9:56 AM  No comments
Gambar Google
Seandainya aku bisa memetik bintang maka akan kupersembahkan bintang itu untukmu seorang. Tidak ada yang lain di hati ini. Masih ingatkah kamu dengan motto aku  yang pernah aku katakan padamu waktu itu ? Ingatanmu luar biasa, aku yakin kamu pasti ingat dengan motto aku itu. Meskipun demikian, agar motto aku lebih tertanam lagi di hatimu maka aku tulis kembali di kertas putih ini dengan coretan tinta hitam, " langkahku boleh beribu - ribu, namun cinta dan hatiku hanya untukmu."

Keindahan disaat malam tiba hanya karena adanya bulan dan bintang, begitu juga dengan keindahan siang, matahari yang menyinari dunia ini. Begitu terang cahaya bulan yang di kelilingin oleh bintang, dan begitu panas terikan matahari yang menyinari bumi ini. 

Wajahmu cantik menebarkan pesonaku saat senyuman manismu menghapiriku, rasanya seperti angin yang halus menusuk jiwa dan ragaku. Hatiku terguncang mendengar sapaanmu yang penuh dengan keunikan yang tak mudah orang - orang menebakmu, sebenarnya bagaimana kamu itu?

Kamu hadir di dalam hatiku, dengan sopan dan penuh kelembutan. Aku merasa dingin dan damai saat pertama kamu hadir dengan salam pembuka yaitu senyuman manismu. Tak kusangka dan bahkan membuat orang lain yang mengenal kita heran dengan terjalinnya hubungan kita. Kamu datang membawakan cinta di hatiku hingga aku terasa adem dengan siraman kasih dan sayang mu kepadaku.

Kamu tanamkan pohon - pohon cintamu dihatiku, dan kamu berpesan untuk merawatnya dengan baik. Di setiap daun - daun tertulis kata - kata "tulus kamu mencintaiku," di dahan pohon juga kamu ukir dengan tlisan kecil yang mengingatkan aku selalu padamu, yaitu "kasih dan sayangmu" hanya untukku. Indahnya lagi di batang pohon kamu ukir kata "cintamu hanya untukku."

Disebaliknya, aku juga tidak hanya menerima begitu saja pohon cinta yang kamu tanam dihatiku, aku akan selalu ingat atas pesanmu padaku. Akan kurawat dengan baik tanaman pohon yang kamu tanam, dan juga kusirami dengan kasih sayangku, kupupuk dengan kesetiaanku, kupagar dengan cinta yang tulus dari hati kecilku. Ranting - ranting belaian kasih sayangku selalu untukmu, tali - tali kecil cintaku akan ku ikat pagar "cinta" agar kumbang lain tau bahwa tanaman pohon cinta itu aku yang menjaga dan merawatnya.

Semakin hari tanaman itu semakin besar, daun - daunnya juga semakin subur, bahkan dahannya juga semakin banyak. Kita sadar, setiap pohon pasti ada patah dahannya dan jatuh daunnya. Retakan kulit batang pohon pun juga demikian, meskipun kita rawan dan kita jaga dengan baik. Namun di balik jatuhnya dau juga akan keluar daun - daun yang baru, dahannya juga demikian, akan keluar dahan - dahan lain yang bercabang - cabang, begitu juga dengan kulit batang pohon yang baru.

Aku dan kamu kini sama - sama punya rasa tanggung jawab atas pohon cinta, baik menjaganya, menyiraminya, memupuknya dan bahkan melindungingan dari angin - angin badai yang ingin menjatuhkan pohon cinta kita. 

Bersambung...........!!!


Tuesday, May 12, 2015

Unknown     2:30 PM  No comments

Jika anda adalah orang yang mudah menyerah, lebih baik lupakan saja impian anda untuk sukses. Mulai dari hal diri sendiri, mulai dari sekarang, dan mulai dari hal yang kecil untuk perubahan yang lebih baik.

Sesungguhnya sang juara sejati adalah seseorang yang tak pernah menyerah. Hanya karena orang kaya belum tentu bahagia, tidak berarti kekayaan itu tidak penting. Uang adalah alat tukar yang digunakan oleh manusia untuk menghargai nilai dan hasil kerja masing-masing …bagi kebaikan hidup.


Harta dan kekayaan itu penting. Kita tidak bisa membangun negara yang kuat, rakyat yang damai, dan keluarga yang sejahtera, jika kita merendahkan kekayaan hanya karena kita tidak memilikinya. Janganlah menunggu pekerjaan yang sesuai dengan bakat Anda, agar Anda merasa betul-betul pas membangun karir dan kehidupan yang baik.


…Hari ini, yang praktis yang menang. Maka jika pekerjaan Anda saat ini
tidak sesuai dengan bakat Anda, bakatilah! Membakati pekerjaan yang sudah ada adalah sikap yang lebih memberhasilkan, daripada menjadi pribadi berbakat yang hanya menunggu.


Bakatilah pekerjaan Anda. Janganlah engkau menggantikankedamaian hatimu dengan kesenangan sementarayang hanya akan menjadikanmu orang mudayang letih dan lesu saat orang lain bekerja,dan terang mata dan tegar badanmu…saat orang lain tidur. Sebaiknya engkau sepenuhnya hadir,dan lebih terlibat dalam kehidupanyang sesungguhnya, bukan cara-cara yangtidak akan sesuai lagi bagimusegera setelah engkau lebih menua.

Anak buah membayar pengabdiannya kepada atasannya, dengan usia. Jika anak buah salah memilih atasan,dia telah menyia-nyiakan usianya. …Jika dia tidak menghormati Anda,dan tidak memungkinkan Anda untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan terhormat, untuk apakah Anda berlama-lama bekerja di bawahnya?
Rezeki Tuhan tersebar di muka bumi, dan siap diunduh oleh jiwa yang tegas bagi kebaikan hidupnya.


 

Gadis Pendiam

Unknown     10:27 AM  No comments
pendiam
Sumber Google

Pada hari itu, aku duluan tiba di kampus di bandingkan dengan kawan – kawanku yang lain. Sepeda motorku seperti biasanya aku taruh di tempat parkir yang disediakan oleh pemilik kantin depan fakultas tempat aku belajar.

kampus masih sepi, belum ada satu orang pun yang terlihat di fakultas saat itu. Aku beristirahat di sebuah bale yang ada di kantin depan fakultas. Bale yang berukuran 1,5 x 2 meter itu beratap rumbia dan berdinding papan setengah. Kedua kakiku ku goyang – goyangkan sambil kunikmati alunan music dipagi hari, mataku menatap kosong kedepan. Di tempat itu terdapat pula pohon – pohon besar yang rindang.

Matahari keluar dari ufuk timur, cahayanya menyinariku lewat celah – celah daun – daunan yang ada di sekitar tempat itu. Aku mulai terasa silau ketika melihat ke arah timur, mataku terpacu ke arah selatan. Didepan tempat aku duduk ada sebuah tempat duduk yang terbuat dari bambu dan sudah ambruk dan tidak bisa digunakan lagi. Semua bambunya sudah terbengkalai tanpa adanya perbaikan dari pihak pengelola kantin.

Daun – daun dari pohon - pohon besar itu jatuh berserak seluas halaman, rumput – rumput yang hidup subur tak terlihat lagi, semuanya di tutupi oleh daun – daun itu. Sekira satu jam aku duduk sendirian, ahirnya datanglah beberapa mahasiswa baru (angkatan 2013). Mereka menyapa aku.

Awai that goe bang ? peu awai jaga beungoeh nyoe nye ? (cepak kali kok bang? Apa cepat bangun pagi ini ya ?) Tanya seorang cewek Mahasiswi…!!!

Nye dek, awai bacut beungoh nyoe, beuklam hana eh abang, abang nonton bola (ya dek, cepat sedikit pagi ini, semalam tidak tidur abang, abang nonton bola) jawab aku sambil senyum…!!!

Tak lama kemudian kantinpun di buka oleh pemiliknya. Aku berpindah tempat dan sekalian  mengajak mereka untuk minum kopi. Akan tetapi mereka menolaknya.

Yak jeb kupi yak ( minum kopi yok)..!!! ajak aku terhadap mereka…!!!

get bang, ( baik bang)..!!! jawab mereka sambil senyum juga.

Meskipun aku tak duduk di bale lagi, mataku masih terarah ke selatan, disana terdapat jalan lintas yang berkerikil menuju fakultas. Disitulah aku mulai melihat dia yang datang berdua dengan sahabatnya. Helemnya tertutup rapat dan berkaca hitam, aku tidak bisa melihat wajahnya dari pandangan jauh, melainkan secara dekat setelah di buka helmnya.

Tanpa hari tanpa kehadirannya, kecuali hari libur. Gadis itu selalu datang berdua ke kampus menggunakan sepeda motor  miliknya. Setiap hari kuliah, sepeda motornya di parkir di bawah pohon kupila, dan juga banyak sepeda motor lainnya yang di parkir disitu. Gadis itu tak pernah memakai celana untuk datang ke kampus melainkkan rok yang selalu digunannya.

Wajahnya putih, senyumannya sangat manis. Oh Tuhan !!!, aku benar – benar tergoda dengan gayanya yang sopan dan santun. Dia seoarang gadis pendiam diantara kawan – kawanku yang lain. Tutur bahasanya sangat jarang kita dengar untuk berbicara dengan orang – orang, melainkan sesekali berbicara dengan sahabat dekatnya.

Kerajinannya sangat luar biasa, apa lagi dengan tulisannya yang halus dan rapi. Setiap harinya ia hadir tepat waktu untuk belajar. Gaya belajarnya patut di contohkan, dalam seribu hanya satu yang kita temukan yang seperti itu. Sangat jarang, bahkan bisa dikatakan tidak pernah ia masuk kuliah setelah dosen pengajar sudah memulainnya.

Senyuman manisnya itu menampakkan gigi yang putih. Oh Tuhan..!!! aku begitu semangat belajar jika duduk dekat dengannya. Dia itu benar – benar gadis pendiam yang selama ini aku kenal. Sudah hampir dua tahun aku kuliah, tapi untuk berbicara dengannya bisa di hitung dengan jariku yang sepuluh ini.

Setelah selesai aktivitas belajar ia selalu bersama sahabat dekatnya datang ke mesjid yang terletak di luar komplek kampus, tak jauh dari tempat belajarnya, kira – kira 1 km. sangat jarang gadis itu duduk di kantin kampus, itupun bisa dihitung dengan jariku.

Pakaian yang digunakannya untuk kekampus tidak terlalu mewah dan bermodel, melainkan biasa – biasa saja. Kerudungnya pun juga demikian, berbentuk petak persegi, atau sering disebut oleh kalangan perempuan dengan sebutan jelbab paris. Warna kerudung yang digunakannya sangat padu dengan pakaian dan roknya yang di kenakannya.

Gadis itu seorang putri di mataku, bahkan kadang – kadang di mata orang lain juga demikian. Oh Tuhan…!!! Jika ia putri, maka jadikanlah aku ini sebagai raja. Sebahagian mahasiswa naksir kepadanya, sampai – sampai mencari tahu tentangnya. Banyak mahasiswa pula yang meminta – minta nomor hanphone nya. Adapula yang merasa penasara jika mendengar tentangnya apa lagi belum mengenal dengan gadis itu, maka mereka mensearcingnya di facebook.

Oh Tuhan..!!! banyak lelaki yang gila padanya. Gadis pendiam sungguh sangat mempesona. Ada sebahagian lelaki salah sangka terhadapnya, mereka mengira ia gadis sombong, padahal begitulah karakternya. Memang ia benar – benar gadis pendiam. Gadis itu pernah mengatakan padaku, bahwa ia malu berbicara dengan orang – orang, apalagi tidak tau apa yang harus di bicarakan (tidak ada konsep pembicaraan).

Gadis pendiam yang menawan, lewat pesan sms dia berbicara dengan orang – orang, atau dengan chating dan komentar di facebook ia menuturnya. Oh Tuhan…!!! Setiap status yang di tulisnya di facebook, sangat banyak yang mengelikenya (menyukainya), di tambah lagi dengan komentarnya, Subhanallah, sungguh luar biasa.

Wajahnya yang cantik dan hidungnya yang mancung seakan – akan dialah Katrina Kaif bintang film Hindia yang bermain di film “Jaab Ta Hai Jan”.

Seandainya kenyataan dia Katrina Kaif, Oh Tuhan…!!! Apakah aku ini akan menjadi sosok Syahrul Khan ? sungguh mustahil.

Setiap harinya ada – ada saja kelebihan yang aku lihat pada gadis pendiam itu, baik dari pakaiannya, cara jalannya, senyumannya, cara belajarnya dan banyak hal lainnya yang tidak bisa ku ceritakan.

Dari segi belajarnya, ia selalu duduk di deretan paling depan, akupun kadang – kadang demikian. aku sering kali duduk sejajar dengan barisanya, sekali – kali aku duduk di belakang, kebanyakan di depan. Sebahagian kawan – kawanku yang duduk di belakang asik main hanphonenya ketika dosen sedang menulis di papan, akupun tidak lalai menggunakan waktu untuk memandangnya walau sekejap.

Dari segi cara duduknya, ia selalu duduk dengan sopan, tidak berpindah – pindah dan memutar – mutar kepalanya. Matanya tertuju kedepan, menyimak dan menulis apa yang di terangkan oleh dosen. Tidak pernah ribut, dan paham terhadap materi kuliah yang disampaikan oleh dosen.

Dari pertama ia masuk kuliah pada 2012 yang lalu, hingga kini indek prestasinya (IP) sangat memuaskan, rata – rata di atas 3,7. Sungguh sangat beruntung gadis itu, setelah ia memiliki kecantikan yang di karunia oleh Allah SWT, dan ia juga pintar serta sopan dan satun yang selalu di jaganya.

Saturday, February 21, 2015

Secercah Harapan di Bukit Giyanti

Unknown     2:11 AM  No comments
Karya: Satria Akbar (Mahasiswa FKIP Bahasa Inggris Unigha Sigli Aceh)

Mentari pagi mulai terbit di balik bukit, tetesan embun masih membekas di atas rerumputan, itik - itik mulai berjalan sembari berbaris dengan berbondong-bondong menuju persawahan untuk mencari makanan. burung-burung pun mulai bersiul-siul di atas pohon seakan- akan sedang bernyanyi menyambut pagi yang cerah. Rumahku memang terletak di pinggiran sawah yang tak jauh dari perbukitan.Seperti biasa setiap paginya aku menikmati secangkir kopi dengan pemandangan yang membuat hatiku damai. Setelah menikmati secangkir kopi aku beranjak menuju sumur yang tak jauh dari rumahku dan kemudian aku mulai menimba air untuk memandikan ibuku yang sudah sejak dua tahun terakhir menderita lumpuh. Namaku Akbar, aku merupakan anak tunggal dan aku menjadi tumpuan keluarga semenjak ayahku meninggal dunia kecelakaan empat tahun silam, ayahku merupakan supir di sebuah perusahaan kosmetik. setelah ayahku meninggal ibuku mulai menggeluti pekerjaan sebagai pencuci baju yang menerima upah hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Karena keterbatasan ekonomi tersebut aku pun membuat keputusan untuk berhenti kuliah dan mulai bekerja sebagai tukang kebun untuk meringankan beban orang tuaku.

Namun dua tahun yang lalu ibuku jatuh pingsan ketika sedang menjemur baju yang di cucinya di halaman rumahku dan kemudian ibuku menderita lumpuh total. Semenjak itulah aku mulai bekerja keras untuk membiayai pengobatan beliau, aku tidak pernah berputus asa karena aku tau semua penyakit pasti ada obatnya kecuali maut. Itu yang sering ku dengar di balai pengajian dimana aku menuntut ilmu agama. Setelah memandikan dan menyuapi makanan untuk ibuku aku pamitan untuk berangkat kerja. Aku pun langsung beranjak menuju rumah haji Nasruddin, aku bekerja sebagai tukang kebun di rumah beliau. Aku berjalan menyusuri pematang sawah, dengan pakaian yang sudah lusuh dan kerah yang tadinya berwarna biru memudar menjadi putih mungkin karena sudah setahun lebih dan setiap hari aku memakainya.  Tak lama kemudian aku pun sampai di rumah haji Nasruddin, seperti biasa aku langsung ke gudang dan mengambil perkakas dan mulai merapikan rumput. Tak pernah ku sangka dalam hidupku bahwa hari itu akan merubah hidupku selamanya. Iya hari itu haji nasruddin kedatangan tamu dari kota, seorang gadis cantik jelita yang merupakan kemenakannya. Disa namanya, gadis berwajah oval dan sangat menarik ini merupakan seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kota. Wajahnya yang ayu tersebut membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Senyum tipis di balik lesung pipinya tersebut membuat hati ini bergetar.

Sungguh perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Hari itu aku pulang dengan hati yang sangat senang dan terkadang aku tersenyum-senyum sendiri dan hal ini membuat ibuku heran danmulai bertanya apa gerangan yang membuatku segitu gembiranya. Namun aku hanya tersenyum mencoba menyembunyikan ini semua karena hal ini membuatku sedikit malu mengutarakannnya kepada ibuku. Keesokan harinya aku berangkat kerumah haji Nasruddin dengan penuh semangat karena aku ingin melihat senyuman manis yang membuatku tak bisa tidur semalaman. Setibanya aku di rumah haji Nasruddin kulihat seseorang sedang menyirami bunga di taman, “tidak salah lagi,ini pasti gadis cantik yang aku lihat kemarin.” Gumamku dalam hati. Kemudian aku bergegas menuju gudang, namun baru beberapa langkah aku berjalan, ada seseorang yang menarik lenganku seraya berkata “ mas, tolong lihat ada dahan anggrek yang sudah patah”, aku menoleh dan kemudian aku tertegun, ternyata Disa gadis yang aku dambakan sudah berada tepat di depanku. “Ya Allah apa yang harus kukatakan, mulutku terkunci rapat. Tak ada satu patah katapun yang dapat aku katakan, jantungku berdegup kencang seperti gendang di malam takbiran”.Kemudian dengan terbata-bata aku berkata “ke..ke..”, belum sempat aku menjawab Disa menarik lenganku menuju anggrek yang patah tadi. “lihatlah anggrek ini mas”. Kuperiksa anggrek tersebut, dahannya memang patah. “oh ini karena hujan lebat semalam mbak , tapi tidak apa-apa mbak, nanti tunas baru akan muncul”jawabku dengan penuh keyakinan. Dari kejadian ini aku tahu Disa sangat menyukai anggrek, setiap hari Disa menemaniku menyiram anggrek dan akupun sudah tidak canggung lagi dengannya.

Hari berganti hari hubunganku dan Disa pun semakin erat dan tibalah suatu hari dimana hari itu merupakan hari istimewa buat Disa, iya hari itu Disa berulang tahun. Kulihat rumah haji Nasruddin dipenuhi oleh tamu undangan dan banyak sekali mobil yang di parkirkan di halaman sehingga hari itu aku tidak bekerja, aku datang kerumah haji Nasruddin hari itu sebagai tamu yang di undang oleh Disa. Banyak tamu datang dari kota itu terlihat dari setelan jas yang mereka kenakan. Aku datang dengan pakaian dan sepatu butut peninggalan ayahku dulu, tapi itu tak membuatku malu. Aku masuk kedalam rumah dan kulihat Disa sangat anggun mengenakan blouse panjang berwarna merah, Disa  tersenyum melihat kehadiranku dan kemudian menghampiriku. “kenapa baru tiba sekarang ?”tanyanya.“oh, tadi di jalan macet” gurauku dengan senyum sarkastik. “Ah kamu bisa ajabar”. Kata Disa sambil mencubit lenganku. Setelah acara potong kue selesai aku beranjak pulang, baru beberapa langkah aku keluar dari halaman rumah haji Nasruddin kulihat Disa memanggil namaku dengan berlari kecil di belakangku.“kamu mau kemana bar?” tanya Disa. “Aku mau pulang Dis” jawabku. “janjinya  kamu mau ajak aku ke bukit Giyanti.” Tuntut Disa. Oh iya aku hampir lupa kalau aku pernah berjanji di hari ulang tahun Disa aku akan mengajaknya kebukit Giyanti untuk melihat anggrek hutan yang tumbuh di bukit tersebut.“Mm..tapikan masih ada tamu di rumah.” Elakku. Tapi Disa tetap memaksakan kehendak  ingin ke bukit Giyanti. “Aku tidak peduli dengan orang lain , aku hanya ingin melihat Anggrek-anggrek hutan itu, mungkin hanya kali ini kesempatan yang aku miliki. “ya sudah , ayo kita pergi” ajakku.

Setelah menempuh perjalanan kira-kira dua jam dengan berjalan kaki, akhirnya aku dan Disa tiba di bukit Giyanti.Kukatakan kepada Disa di bawah pohon besar itulah anggrek-anggrek hutan tumbuh.Dengan penuh semangat Disa berjalan menuju pohon besar itu berada tanpa memperdulikan rasa capek ketika mendaki tadi. Setibanya di bawah pohon besar itu Disa kegirangan melihat anggrek-anggrek yang tumbuh berjejer bak sebuah taman. Disa sangat bahagia, tidak pernah aku melihat Disa sebahagia ini. Disa berjalan diantara anggrek-anggrek itu sedangkan aku memilih duduk di bawah pohon besar dengan perasaan senang karena telah menepati janjiku. Setelah puas melihat keindahan anggrek-anggrek tersebut Disa datang menghampiri dan duduk disebelahku. Kemudian Disa berkata “Terimakasih bar, ini merupakan kado terindah di hari ulang tahunku.” Dan aku pun tersenyum. “Kamu tahu bar kenapa aku sangat menyukai  anggrek-anggrek hutan ini?”ujar Disa. Aku memandang ke arah Disa dengan wajah penasaran seakan-akan ingin cepat-cepat mengetahui alasan disa menyukai bunga anggrek – anggrek tersebut,kemudian aku bertanya kenapa. “Coba lihat anggrek-anggrek itu bar, mereka tumbuh untuk menambahkan warna-warni di dunia ini dengan keindahan mereka.
Mereka tidak peduli jikasuatu hari, baik itu besok, lusa, atau kapanpun mereka akan musnah, Mereka tetap akan tersenyum dan menaburkan keindahan di dunia ini”. Aku terpana mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Disa. Setelah itu akupun mengajak Disa pulang karena hari pun sudah senja. Di perjalanan aku memikirkan kata-kata yangDisa ucapkan tadi, sungguh dalam memang pandangannya terhadap bunga Anggrek.Sesampainya di depan pagar rumah haji Nasruddin, langkah terhenti dan kemudian Disa berbalik ke arahku. “Kenapa Dis, ada yang ketinggalan?” tanyaku. “tidak bar, aku hanya sangat bahagia hari ini karena kamu telah membawaku  ke tempat paling indah di dunia ini”. Jawab Disa sambil menyeka tetesan air mata yang mulai menitik di pipinya. Aku heran dengan situasi seperti ini, lalu kugenggam tangan Disa dan kutanya “kenapa engkau menangis Disa, apa aku menyakitimu?”. Namun Disa tidak menjawabnya,dalam keheningan itu Disa kemudian berkata “Aku sayang kamu bar”. Kemudian Disa berbalik dan berjalan masuk ke rumah pamannya. Aku masih terdiam kaku dan bingung di tempat semula. Aku tak percaya dengan kata-kata yang baru saja Disa ucapkan. Di dalam kebingunganku itu aku berjalan pulang kerumahku.

Malamnya aku termenung sembari memikirkan kejadian di luar dugaanku tadi sore, perasaan bingung bercampur senang itu yang kurasakan saat ini. Di satu sisi aku senang  ternyata Disa juga sayang padaku, namun disisi lainnya aku bingung kenapa Disa menangis. Hingga ayam berkokok aku masih belum sempat memejamkan mataku. Dengan kepala yang masih sedikit pening aku beranjak dari alas tempat tidurku menuju sumur mengambil whudu’ dan kemudian menunaikan shalat subuh. Setelah selesai ibu kemudian memanggilku dan berkata“Nak, hari ini pulang cepat ya, ada sesuatu hal yang ingin ibu sampaikan”. Iyabu jawabku. Setelah semuanya selesai akupun berangkat menuju rumah haji Nasruddin, maksud hati ingin bertemu dengan Disa dan mengungkapkan perasaan kupadanya, namun sesampainya disana aku di buat bingung oleh situasi. Bagaimana tidak Disa sudah tidak ada lagi dirumah haji Nasruddin. Kuberanikan diri untuk bertanya kepada haji Nasruddin, namun haji nasruddin mengatakan bahwa tidak ada gadis bernama Disa yang tinggal di rumahnya selama ini. Akupun mulai emosi dan berkata kepada haji Nasruddin untuk tidak mempermainkanku, kemudian haji nasruddin memberikan aku kebebasan untuk memeriksa rumahnya jika aku tidak percaya, kemudian akupun memeriksa rumah tersebut.
Setelah sekian lamanya aku memeriksa, namun Disa juga tidak kutemukan. Dengan perasaan heran ditambah jengkel akupun pergi dari rumah haji Nasruddin. Aku heran kenapa haji Nasruddin mengatakan bahwa tidak gadis di rumahnya, kan tidak mungkin Disa itu hantu, “Ah kenapa aku berpikir-pikir yang enggak-enggak, aku berpikir secara logika,tidak ada hantu di dunia ini”. Gumamku.
Dengan perasaan yang tak menentu akupun pulang, di tengah perjalanan pulang aku melihat seseorang berlari ke arahku dengan memanggil namaku, “Akbar..Akbar..”. Kuperhatikan sosok yang memanggilku tersebut dan kemudian akupun melihat dengan jelas ternyata orang tersebut adalah Cik Munah. Beliau merupakan tetanggaku yang sangat baik, jika aku tidak ada dirumah beliau lah yang sering menjaga ibuku. Dengan terengah-engah beliau berlari ke arahku dan berkata“Akbar cepat pulang kerumah, ibumu..” belum selesai Cik Munah  berujar akupun langsung berlari dan disusul Cik Munah di belakang. Sesampainya di rumah aku melihat banyak orang sudah dirumahku, aku masuk ke dalam dan kulihat seluruh tubuh ibuku sudah di tutup dengan kain. Aku tak dapat menahan tangisku ketika itu, seluruh tubuhku lemas dan aku tersungkur tak kuasa menahan kesedihan. Aku menyesal karena tidak bisa memenuhi permintaan terakhir ibuku. Setelah pemakaman ibuku selesai, aku pulang dengan perasaan yang sangat rapuh. Setiap malam aku hanya memandangi alas tempat tidur, terkadang air mataku jatuh tanpa kusadari.

Tiga hari berlalu semenjak meninggalnya ibuku aku masih di selimuti kesedihan yang amat sangat mendalam.Kemudian datanglah haji Nasrudin kerumahku dan beliau menceritakan kejadian yang sesungguhnya bahwa sebenarnya Disa itu memang kemenakannya dan kemudian dia mengatakan bahwa Disa menderita penyakit kanker otak stadium akhir, malam itu ketika Disa meninggalkanku masuk kerumah pamannya, Disa menangis dan membuat kesepakatan dengan  pamannya untuk menyangkal keberadaannya dirumah itu. Dia tidak ingin aku sedih dengan keadaannya, dia hanya ingin semua orang tersenyum di sisa akhir hayatnya.Setelah membuat kesepakatan dengan pamannya Disa kemudian jatuh pingsan dan pamannya pun langsung menghubungi ayahnya untuk segera menjemput dan membawanya kerumah sakit malam itu juga. Paginya harinya Disa meninggal dengan wajah tersenyum dan dia meninggalkan sepucuk surat singkat yang di tujukan untukku.Setelah menceritakan semuanya haji Nasruddin kemudian menyerahkan surat tersebut kepadaku.

Perlahan kubuka surat itu dan aku mulai membacanya di  dalam hati “Akbar, Disa tahu kalau disa salah karena sudah berbohong, namun apadaya Disa tidak bisa melihat kesedihan di wajah Akbar. Tak sanggup Disa melihat semua itu, maafkan disa jika keputusan ini membuat Akbar terluka, Disa hanya ingin seperti Anggrek di hutan, meskipun akan segera hilang dari muka bumi ini namun ia tidak pernah berhenti menaburkan keindahan untuk dunia ini”.  Aku menangis tanpa hentinya, entah berapa lama aku menangis tanpa kusadari haji Nasruddin pun sudah tidak ada lagi didepanku. Perasaanku hancur berkeping-keping, aku telah kehilangan dua orang yang sangat aku cintai. Harapanku hilang sudah, ingin rasanya aku pergi dari dunia ini menyusul Ibu dan juga Disa.

Akhirnya kuputuskan untuk pergi meninggalkan desaku ini, aku ingin hidup di bukit Giyanti. Aku berangkat menuju bukit Giyanti akan ku mulai hidup baru dimana aku akan tinggal disana selamanya. Akan penuhi bukit itu dengan tanaman anggrek agar dunia ini menjadi indah seperti harapan Disa. Dua tahun lebih aku sudah hidup di bukit Giyanti dan sekarang bukit itu sudah di penuhi oleh tanaman anggrek, dan sekarang orang-orang lebih mengenal bukit Giyanti dengan sebutan bukit anggrek. Setiap hari banyak orang yang datang ingin melihat keindahan anggrek di taman anggrek terbesar yang pernah ada. Aku menghabiskan sisa hidupku di bukit anggrek dengan kenangan ibuku dan juga Kenangan Disa yang selalu melekat di hatiku. Aku berjanji akan hidup seperti bunga anggrek.


Sunday, February 1, 2015

Tulus

Unknown     9:50 AM  No comments

 Oleh | Faradinah Dewi


Wika terdiam, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Vidya duduk di samping Wika sambil menundukkan kepalanya, dia menangis, terdengar jelas isakannya. “Aku sangat mencintainya, aku… mencintai Farid” satu menit yang lalu Vidya mengatakannya, dan membuat Wika tertegun mendengar kalimat itu. Wika tidak habis pikir terhadap temannya yang satu itu. Malam itu Vidya datang menemuinya dan “meminta” seseorang yang sangat berarti di hidupnya. Vidya baru saja mengakui bahwa dia mencintai Farid, pacar Wika.

“Kau tahu? 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk kami menjalani hubungan ini” akhirnya Wika berani bersuara.

“Tapi aku sangat mencintainya, maafkan aku” kata Vidya di sela tangisnya

“Kau salah mencintainya Vid, kenapa harus dia? Kenapa harus milikku?”

“Milikmu? Seharusnya dia menjadi milikku. Asal kau tahu saja, aku sudah lama menyukainya sebelum kalian saling mengenal satu sama lain, tapi sayangnya kau lebih beruntung bisa mendapatkan hatinya” bentak Vidya sambil menatap tajam ke arah Wika

“Aku tidak habis pikir kau bisa segila ini. Apapun itu, aku tidak akan meninggalkan Farid, kau tahu itu?”

“Kau memang tidak akan meninggalkannya, tapi aku pastikan dia yang akan meninggalkanmu. Kami sudah lama bersahabat, dia pasti percaya pada semua perkataanku. Dan bukan hal yang sulit membuatnya membencimu” kata Vidya sambil berdiri dari tempat duduknya dan beranjak keluar dari rumah Wika. Dia pun berlalu bersama mobil Honda Jazz putihnya.

Wika bersandar di kursi ruang tamunya sambil memijit kedua pelipisnya “Gadis itu benar-benar gila” pikirnya.

Dan Vidya membuktikan perkataan terakhirnya malam itu. Dia perlahan menghancurkan hubungan Wika dan Farid. Dia berhasil membohongi Farid tentang kedekatan Wika dengan beberapa pria, yang sebenarnya adalah sahabat Wika sendiri. Mengarang cerita tentang kejelekan Wika, dan Vidya benar-benar berhasil membuat jarak di antara Farid dan Wika dengan segala cara busuknya. 
***

“Kau salah cemburu padanya, aku dan Reno sudah lama bersahabat” kata Wika 
“Jadi kau lebih memilih sahabatmu itu di banding aku? Membuatku menunggumu berjam-jam di sini dan kau lebih memilih pergi bersenang-senang bersamanya!” bentak Farid penuh emosi

Wika tiba-tiba menoleh kearah Farid, memandangnya dengan tatapan tidak percaya karena baru saja mendengar Farid membentaknya. Lalu Wika menghela nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya.

“Sebelumnya maafkan aku membuatmu menunggu. Reno tiba-tiba sakit, dan memintaku membawanya ke dokter karena semua keluarganya sedang di luar kota, dan satu hal lagi, kami tidak bersenang-senang seperti katamu tadi” kata Wika lagi dengan tenang

“Aku bukan anak kecil lagi yang bisa seenaknya kau bohongi Wika. Vidya sering melihatmu bersama Reno, dan kalian hanya jalan berdua”

“Dan kau lebih percaya dengan perkataan Vidya di banding aku?”

“Apa untungnya Vidya membohongiku?”

Wika tertawa sinis, menertawai kebodohan Farid yang begitu saja percaya dengan omongan Vidya.

“Karena dia mencintaimu” kata Wika tiba-tiba

Farid tertegun mendengar perkataan pacarnya itu, lalu berkata

“Ini bukan lelucon Wika”

“Siapa bilang ini semua lelucon? Aku muak dengan semua perubahan sikapmu yang disebabkan oleh  kebohongan sahabatmu itu tentangku. Sepertinya dia benar-benar mencintaimu”

“Wika, aku harap kau sadar dengan perkataanmu itu” kata Farid

“Kau tahu? Beberapa minggu yang lalu dia mendatangiku dan mengatakan semuanya, tentang perasaannya padamu selama ini. Dia juga berjanji akan membuatmu meninggalkanku, dan sepertinya secara perlahan dia membuktikan perkataannya”

Farid lalu terdiam menatap lekat ke dua mata Wika. Seakan mencari kata “aku sedang bercanda” di kedua bola mata itu, dan dia tidak menemukannya. Wika benar-benar mengatakan yang sesungguhnya.

“Aku berharap kau lebih mempercayaiku dibanding Vidya. Tapi sayangnya 3 tahun belum cukup membuatmu memberikan kepercayaan kepadaku, seperti yang kau berikan kepadanya”

Kata Wika lagi. Farid melihat air mata Wika mengalir perlahan di pipinya. Ada rasa sesak di dadanya melihat Wika menangis. Dan dia baru menyesal setelah mengetahui segalanya.

“Dan sepetinya kau sudah terlalu jauh meninggalkanku” kata Wika lagi.

 Lalu dia beranjak pergi meninggalkan Farid yang sedang menyesali ke bodohannya selama ini. Farid terduduk lemas di bangku kafe itu, dalam diam, dia merasakan sakit yang mendalam sambil menatap punggung Wika yang berjalan menjauh darinya.
***
Membuat Vidya mengakui segalanya bukan hal yang mudah. Tetapi setelah mengakui segalanya, Vidya sama sekali tidak bermaksud meminta maaf atas perbuatannya, dia malah meminta Farid melupakan Wika dan berusaha mencintainya. Farid benar-benar tidak habis pikir dengan perbuatan sahabatnya itu dan memutuskan menjauhi Vidya. Dan dia berusaha memperbaiki hubungannya dengan Wika.

Vidya tetap berusaha mendekati Farid walaupun Farid bersikap dingin terhadapnya, dia benar-benar telah di butakan oleh perasaannya. Sampai suatu ketika Farid mendapatkan kabar bahwa Vidya melakukan hal yang lebih gila lagi dari sebelumnya. Vidya kehabisan akal untuk mendapatkan hati Farid, dan akhirnya dia menyakiti dirinya sendiri. Vidya mengiris kedua pergelangan tangannya dengan pisau dan di temukan tidak sadarkan diri di kamarnya dengan bersimbah darah. Untungnya Vidya masih bisa selamat dari tindakan bodohnya itu. Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Vidya siuman dari koma singkatnya dan menangis sambil berteriak memanggil-manggil nama Farid.
***

Akhirnya orangtua Vidya berhasil membujuk Farid untuk datang menjenguknya. Sore itu, sesampainya di rumah sakit, Farid menemukan Wika keluar dari ruang rawat Vidya. Wika tertegun melihat Farid yang sedang berdiri terpaku kearahnya. Dia pun bermaksud melangkah meninggalkan Farid, dan langkahnya terhenti ketika mendengar Farid memanggil namanya.

“Jangan berusaha menjauhiku seperti ini, kau tahu betapa sulitnya aku berusaha menemuimu selama ini?” kata Farid lagi

Wika tersenyum sinis, lalu dia berbalik menatap Farid

“Aku tidak akan melakukan semua yang Vidya lakukan hanya demi kau” kata Wika

“Apa maksudmu berkata seperti itu?” Tanya Farid

“Tidakkah kau sadar betapa Vidya mencintaimu? Dia melakukan semua ini demi kau”

“Aku tidak memintanya melakukan semua ini untukku”

“Tapi dia rela hampir mati demi mendapatkan perhatianmu”

Farid terdiam

“Lupakan tentang kita, berhenti berusaha memperbaiki hubungan ini, semua tidak lagi sama. Aku mohon, bahagiakan Vidya, dia benar-benar mencintaimu” kata Wika lagi

Tiba-tiba Farid melangkah maju, dengan cepat dia menarik Wika ke dalam pelukannya. Wika kaget dengan perlakuan Farid itu tapi dia tidak berusaha melepaskan pelukannya. Lalu Farid berbisik dengan pelan 

“Aku merindukanmu Wika. Sikapmu yang menjauhiku selama ini sudah cukup menyiksaku, jangan menambah penderitaanku dengan memintaku mencintai orang lain”

Mendengar perkataan Farid, tenggorokan Wika tercekat. Dia berusaha menarik nafas, tapi ada sesak di dadanya, akhirnya Wika menangis di pelukan Farid. Tangisan Wika semakin menjadi-jadi saat dia mulai menyadari mereka berdua akan sulit untuk kembali seperti dulu lagi. Farid mempererat pelukannya, isakan Wika mulai terdengar jelas di telinganya. 

Beberapa saat kemudian Wika mulai tenang, dia tidak menangis lagi, dengan perlahan dia melepaskan diri dari pelukan Farid. Tetapi tangannya lalu menggenggam ke dua tangan Farid, lalu Wika menatap lekat ke dua bola mata orang yang selama ini dia rindukan itu. Lalu berkata

“Kita akan baik-baik saja, tapi tidak akan seperti dulu lagi. Aku tidak akan rela melepasmu seandainya cintanya tidak lebih besar dari cintaku dan aku tidak akan egois mempertahankanmu lalu menyakiti dia yang mencintaimu”

***

(sumber: www.Washilah.com)

Text Widget

Recent news

About Us