![]() |
| Sumber Google |
Pada hari itu, aku duluan tiba di kampus di bandingkan dengan kawan – kawanku yang lain. Sepeda motorku seperti biasanya aku taruh di tempat parkir yang disediakan oleh pemilik kantin depan fakultas tempat aku belajar.
kampus masih sepi, belum ada satu orang pun yang terlihat di fakultas saat itu. Aku beristirahat di sebuah bale yang ada di kantin depan fakultas. Bale yang berukuran 1,5 x 2 meter itu beratap rumbia dan berdinding papan setengah. Kedua kakiku ku goyang – goyangkan sambil kunikmati alunan music dipagi hari, mataku menatap kosong kedepan. Di tempat itu terdapat pula pohon – pohon besar yang rindang.
Matahari keluar dari ufuk timur, cahayanya menyinariku lewat celah – celah daun – daunan yang ada di sekitar tempat itu. Aku mulai terasa silau ketika melihat ke arah timur, mataku terpacu ke arah selatan. Didepan tempat aku duduk ada sebuah tempat duduk yang terbuat dari bambu dan sudah ambruk dan tidak bisa digunakan lagi. Semua bambunya sudah terbengkalai tanpa adanya perbaikan dari pihak pengelola kantin.
Daun – daun dari pohon - pohon besar itu jatuh berserak seluas halaman, rumput – rumput yang hidup subur tak terlihat lagi, semuanya di tutupi oleh daun – daun itu. Sekira satu jam aku duduk sendirian, ahirnya datanglah beberapa mahasiswa baru (angkatan 2013). Mereka menyapa aku.
Awai that goe bang ? peu awai jaga beungoeh nyoe nye ? (cepak kali kok bang? Apa cepat bangun pagi ini ya ?) Tanya seorang cewek Mahasiswi…!!!
Nye dek, awai bacut beungoh nyoe, beuklam hana eh abang, abang nonton bola (ya dek, cepat sedikit pagi ini, semalam tidak tidur abang, abang nonton bola) jawab aku sambil senyum…!!!
Tak lama kemudian kantinpun di buka oleh pemiliknya. Aku berpindah tempat dan sekalian mengajak mereka untuk minum kopi. Akan tetapi mereka menolaknya.
Yak jeb kupi yak ( minum kopi yok)..!!! ajak aku terhadap mereka…!!!
get bang, ( baik bang)..!!! jawab mereka sambil senyum juga.
Meskipun aku tak duduk di bale lagi, mataku masih terarah ke selatan, disana terdapat jalan lintas yang berkerikil menuju fakultas. Disitulah aku mulai melihat dia yang datang berdua dengan sahabatnya. Helemnya tertutup rapat dan berkaca hitam, aku tidak bisa melihat wajahnya dari pandangan jauh, melainkan secara dekat setelah di buka helmnya.
Tanpa hari tanpa kehadirannya, kecuali hari libur. Gadis itu selalu datang berdua ke kampus menggunakan sepeda motor miliknya. Setiap hari kuliah, sepeda motornya di parkir di bawah pohon kupila, dan juga banyak sepeda motor lainnya yang di parkir disitu. Gadis itu tak pernah memakai celana untuk datang ke kampus melainkkan rok yang selalu digunannya.
Wajahnya putih, senyumannya sangat manis. Oh Tuhan !!!, aku benar – benar tergoda dengan gayanya yang sopan dan santun. Dia seoarang gadis pendiam diantara kawan – kawanku yang lain. Tutur bahasanya sangat jarang kita dengar untuk berbicara dengan orang – orang, melainkan sesekali berbicara dengan sahabat dekatnya.
Kerajinannya sangat luar biasa, apa lagi dengan tulisannya yang halus dan rapi. Setiap harinya ia hadir tepat waktu untuk belajar. Gaya belajarnya patut di contohkan, dalam seribu hanya satu yang kita temukan yang seperti itu. Sangat jarang, bahkan bisa dikatakan tidak pernah ia masuk kuliah setelah dosen pengajar sudah memulainnya.
Senyuman manisnya itu menampakkan gigi yang putih. Oh Tuhan..!!! aku begitu semangat belajar jika duduk dekat dengannya. Dia itu benar – benar gadis pendiam yang selama ini aku kenal. Sudah hampir dua tahun aku kuliah, tapi untuk berbicara dengannya bisa di hitung dengan jariku yang sepuluh ini.
Setelah selesai aktivitas belajar ia selalu bersama sahabat dekatnya datang ke mesjid yang terletak di luar komplek kampus, tak jauh dari tempat belajarnya, kira – kira 1 km. sangat jarang gadis itu duduk di kantin kampus, itupun bisa dihitung dengan jariku.
Pakaian yang digunakannya untuk kekampus tidak terlalu mewah dan bermodel, melainkan biasa – biasa saja. Kerudungnya pun juga demikian, berbentuk petak persegi, atau sering disebut oleh kalangan perempuan dengan sebutan jelbab paris. Warna kerudung yang digunakannya sangat padu dengan pakaian dan roknya yang di kenakannya.
Gadis itu seorang putri di mataku, bahkan kadang – kadang di mata orang lain juga demikian. Oh Tuhan…!!! Jika ia putri, maka jadikanlah aku ini sebagai raja. Sebahagian mahasiswa naksir kepadanya, sampai – sampai mencari tahu tentangnya. Banyak mahasiswa pula yang meminta – minta nomor hanphone nya. Adapula yang merasa penasara jika mendengar tentangnya apa lagi belum mengenal dengan gadis itu, maka mereka mensearcingnya di facebook.
Oh Tuhan..!!! banyak lelaki yang gila padanya. Gadis pendiam sungguh sangat mempesona. Ada sebahagian lelaki salah sangka terhadapnya, mereka mengira ia gadis sombong, padahal begitulah karakternya. Memang ia benar – benar gadis pendiam. Gadis itu pernah mengatakan padaku, bahwa ia malu berbicara dengan orang – orang, apalagi tidak tau apa yang harus di bicarakan (tidak ada konsep pembicaraan).
Gadis pendiam yang menawan, lewat pesan sms dia berbicara dengan orang – orang, atau dengan chating dan komentar di facebook ia menuturnya. Oh Tuhan…!!! Setiap status yang di tulisnya di facebook, sangat banyak yang mengelikenya (menyukainya), di tambah lagi dengan komentarnya, Subhanallah, sungguh luar biasa.
Wajahnya yang cantik dan hidungnya yang mancung seakan – akan dialah Katrina Kaif bintang film Hindia yang bermain di film “Jaab Ta Hai Jan”.
Seandainya kenyataan dia Katrina Kaif, Oh Tuhan…!!! Apakah aku ini akan menjadi sosok Syahrul Khan ? sungguh mustahil.
Setiap harinya ada – ada saja kelebihan yang aku lihat pada gadis pendiam itu, baik dari pakaiannya, cara jalannya, senyumannya, cara belajarnya dan banyak hal lainnya yang tidak bisa ku ceritakan.
Dari segi belajarnya, ia selalu duduk di deretan paling depan, akupun kadang – kadang demikian. aku sering kali duduk sejajar dengan barisanya, sekali – kali aku duduk di belakang, kebanyakan di depan. Sebahagian kawan – kawanku yang duduk di belakang asik main hanphonenya ketika dosen sedang menulis di papan, akupun tidak lalai menggunakan waktu untuk memandangnya walau sekejap.
Dari segi cara duduknya, ia selalu duduk dengan sopan, tidak berpindah – pindah dan memutar – mutar kepalanya. Matanya tertuju kedepan, menyimak dan menulis apa yang di terangkan oleh dosen. Tidak pernah ribut, dan paham terhadap materi kuliah yang disampaikan oleh dosen.
Dari pertama ia masuk kuliah pada 2012 yang lalu, hingga kini indek prestasinya (IP) sangat memuaskan, rata – rata di atas 3,7. Sungguh sangat beruntung gadis itu, setelah ia memiliki kecantikan yang di karunia oleh Allah SWT, dan ia juga pintar serta sopan dan satun yang selalu di jaganya.





0 komentar :