Facebook Twitter Google RSS

Friday, March 14, 2014

Perjalanan Ke Kampus B Unigha Bersama Abi Khais

Unknown     8:04 AM  No comments

Pagi itu, Jum’at 14 Maret 2014 suara kenderaan terdengar riuh dan lalang di jalan raya. 

 Aku tidur di rumah toko (Ruko) Jln. Banda Aceh – Medan No.1 Jeurong Peukan Pidie, aku tidur dengan kawan akrab yang selalu bersama denganku, kemanapu aku pergi, kecuali aku berpisah dengannya jika ia ada kegiatan lain yang diluar kontek bersama.

 Teringat dengan sebuah janji yang telah aku janjikan pada malamnya dengan seorang dosen, saat terkejut dari ketiduran malam, aku langsung bergegas bangun.

 Teman aku yang tadi benama Ariswandi, panggilannya Aris, badannya gemuk. Sedangkan dosen yang tadi adalah, dosen termuda di fakultas aku kuliah di Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Sigli, namanya Khaifan Sasmita, S.Sos, atau sering di sapa dengan nama kerennya Abi Khais.

 “Aris, kajak U Meurudu droekeuh” ( ikut ke Meurudu kamu) Tanya aku.

 "Kubuet u Meuruedu ? ngen soe Kajak man ? (untuk apa Ke Meurudu ? dengan Siapa perginya?) jawabnya.

 “Ngen pak Khaifan, tameurukpok Mahasiswa disideh eunteuk” ( sama pak Khaifan, kita ketemu Mahasiswa disana nanti) jawab akau dengan mata yang masih sepit.

 Aku sama Aris kawan satu fakultas kuliah, fakultas ilmu administrasi di Unigha. Kami kuliah di kampus induk Gle Gapui, kecamatan Indrajaya, Pidie. Sedangkan yang kuliah di Meurudu, kabupaten Pidie Jaya (Pijay) merupakan Mahasiswa Unigha kampus B.

kebetulan kami di fakultas ilmu administrasi ada wewenang sebagai pimpinan badan eksekutif mahasiswa (BEM), atau kini kami sebut dengan nama pemerintah Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (PEMA - FIA).

 Aris merupakan Ketua BEM, atau lebih di kenal di kampus dengan Gubernur fakultas, sedangkan aku pendampingnya (Wakil) dari pada Ariswandi. Kebetulan, Abi Khais pada hari itu kena jadwal mengajar mata kuliah Sistem Politik Indonesia (SPI) di Kampus B pada jurusan yang sama seperti kami berdua.

 Mengingat janjian aku sama Abi pukul 08:00 wib, jumpa di Topik Kupi, maka aku langsung bergegas untuk mandi. Sedangkan Aris, ia sempat pulang kerumah untuk ganti pakaian sebelum kami ke Topik Kupi. Rumahnya Aris tak begitu jauh dengan tempat kami tinggal, hanya sekitar satu kilometer (1 km).

 Ketika Aris sudah kembali dengan pakaian yang rapi, akupun sudah siap untuk pergi jumpa sama Abi Khais. Perjanjian aku sama Abi pada pukul 08:00 pagi. Jika aku dan Aris tidak datang tepat waktu, aku sudah katakan pada malamnya sama Abi Khais untuk agar tidak menunggu kami lagi, karna mengingat perjalanan ke Meuruedu yang menghabiskan waktu 45 menit, bahkan kadang – kadang satu jam di jalan, apalagi jika Abi ngajarnya Pagi, jelas susah untuk mengemudi mobil dengan kencang karna banyak kenderaan, dan anak sekolah, kecuali di siang atau di sore hari.

 Sepeda motorku yang terparkir di dalam Ruko langsung aku keluarkan dengan cepat – cepat, dan sekalian menggembok (mengunci) pintu ruko. Kami berdua Aris langsung menuju ke Topik Kupi. Tiba kami di sana, kami melihat mobil Abi sudah terparkir di depan warung, sedangkan Abi belum kelihatan di mata kami di mana posisinya duduk. Aku dan Aris turun dari sepeda motor, dan aku coba mematikannya sepmor.

 Dua langkah kami gerakkan dari kenderaan, kami sudah melihat Abi yang lagi duduk dengan dua rekannya. Ketidak kelihatannya Abi pertama di karnakan oleh sebuah rak mie di Topik Kupi. Mata Abi tiba – tiba berpaling kepada kami, Aku langsung mengarahkan langkah untuk jumpa dengannya, aku jalan di depan, Aris di belakang. Pak, ucapku, dan ku ulurkan tangan untuk salaman dengannya dan sekalian dengan dua rekannya, Aris juga demikian, ia ikutan dengan apa yang aku lakukan. 

“Jeb ie ilee” (minum dulu), kata Abi.

 “Get pak” jawabku.

 Saat itu kami tidak duduk satu meja dengannya, Aku dan Aris duduk di meja lain yang berdampingan dengan meja yang di duduki oleh Abi dan dua rekannya. Tak lama kemudian, dating seorang lelaki yang menggunakan kemeja hitam dan celana jean.

 “Pesan ie aju ile” (pesan minum dulu) kata Abi lagi.

 Lelaki yang menggunakan kemeja hitam dan celana jean tadi adalah pelayan di warung Topik Kupi.

 “Bang, Kupi Pancong beh” (bang, kopi pancung (setengah) ya) kata aku sama pelayan.

 Satu lagi?, tanyanya pelayan sama kita.

 Aris menjawab, sama aja, kopi Pancong juga.

 Sambil menunggu Abi berbincang – bincang dengan dua rekannya, kami sempat membaca beberapa berita yang ada di media cetak Serambi Indonesia. Di meja kami hanya ada dua gelas cangkir kopi dan dua hanphone (Hp) Nokia tulalit…tulalit.

 Sedangkan di atas meja Abi terlihat beberapa piring kue dan cangkir kopi serta beberapa Hp yang beda – beda tipenya.

 Mata kami melirik ke mejanya, kue pun juga melirik kami. Hahahhaahha…!!!!

 Pelayan tidak menghidangkan kue di meja kami, Abi pun tak melihat kalau di meja kami tidak ada sarapan, karna duduknya sedikit berbelakangan, apalagi Abi lagi asik ngobrol. Aku rasa, Mungkin Abi mengira sudah tak usah di kasih kue lagi dari mejanya, karna sudah ada pelayan yang datang untuk kita pesan. 

Kebiasaannya setiap pemesanan kopi dan minuman lain sebagainya, selalu di hidangkan kue, apa lagi pagi-pagi, orang kan butuh sarapan. Tapi entah kenapa pagi itu kala kami duduk tidak di hidangkan kuenya, apa entah tak ada kuenya lagi atau memang lupa si pelayan, kami tidak tau, Wallahua’alam…..

 Sambil ngopi, Aku dan Aris saling memperlihat berita – berita yang menarik, karna kami masing – masing memiliki satu lembar Koran di tangan. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki berkulit hitam manis bersama satu temannya yang membawa bungkusan nasi untuk diri sendiri.

 Laki – laki itu berjenggot dan jambannya bersenambungan dengan jenggotnya. Dia adalah Zulkifli,S.Sos atau sering di sebut dengan nama kerennya Doli, ia merupakan kakak leting kami di perkuliahan, matanya sama seperti mata aku juga saat bangun tidur, Nampak dari wajahnya baru bangun tidur.

 Heii, bang..ucapku.

 Ya yaya ya,,ucapnya Doli, sambil salaman dengan kita.

 Di depan meja kami ada sebuah meja yang sudah di duduki oleh dua lelaki, dua – duanya kami kenal, yang satu merupakan alumni dari fakultas kita juga, namanya Faisal atau kami panggil bang Faisal, yang satu lagi Edo, nama aslinya kami tidak tau karna kami mengenalnya Cuma segitu aja.

 “Hai, kuduek keunoe ile beh” (hai aku duduk disini dulu ya) kata Doli.

 Get. Get. (ya ya) ucapku.

 Sekitar dua menit Doli baru duduk di depan kami, kemudian Abi mengajak kita untuk berangkat ke Meurudu. Aku langsung ambil tas dan mengikuti Abi ke mobilnya. Sebelum kami ke mobil, aku sempat minta pamit sama Doli dan rekan – rekan satu meja dengannya. Bersambung…………!!!!!!!!!!!!!

Unknown


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Ut odio. Nam sed est. Nam a risus et est iaculis adipiscing. Vestibulum ante ipsum faucibus luctus et ultrices.
View all posts by Naveed →

0 komentar :

Text Widget

Recent news

About Us