Facebook Twitter Google RSS
Showing posts with label Internasional. Show all posts
Showing posts with label Internasional. Show all posts

Saturday, September 5, 2015

Demi Untuk Tinggal di Jerman, Para Migran Timteng Rela Ganti Agama

Unknown     11:34 AM  No comments
Demi Untuk Tinggal di Jerman, Para Migran Timteng Rela Ganti Agama

Demi meningkatkan peluang ditampung di negara baru, berbagai cara digunakan para pengungsi Timur Tengah yang tiba di Jerman. Salah satunya adalah mengganti agama mereka menjadi Kristen.

Salah satunya adalah Mohammed Ali Zonoobi yang baru saja resmi menjadi seorang pemeluk Kristen pada Jumat (4/9/2015), setelah dibabtis di sebuah gereja di Berlin, Jerman.

"Maukah kamu menjauhkan diri dari setan dan bujukan jahatnya?" ujar pastor Gottfried Martens sambil menyiramkan air suci ke kepala pengungsi asal Iran itu.

"Ya," kata Zonoobi menjawab pertanyaan sang pastor. Usai jawaban itu, pastor Gottfried kemudian memberikan berkat dan membabtis Zonoobi, yang kemudian juga mengganti namanya menjadi Martin.

Zonoobi, seorang tukang kayu dari Shiraz, Iran, tiba di Jerman bersama istri dan dua anaknya lima bulan lalu. Dia adalah satu dari ratusan pengungsi asal Iran dan Afganistan yang menjadi Kristen dalam beberapa waktu belakangan.

Sama seperti Zonoobi, saat ditanya alasan berganti agama, mereka mengaku telah menemukan kebenaran dalam ajaran Kristen. Namun, patut diduga alasan utama mereka menjadi Kristen adalah untuk memperbesar peluang ditampung di negeri dengan perekonomian terbesar di Eropa itu.

Gottfried Martens menyadari, berganti agama sangat terkait dengan masalah peluang para pengungsi itu tinggal di Jerman. Namun, bagi Gottfried, alasan mereka menjadi Kristen tak penting.

Sebenarnya menjadi Kristen tak menjamin para pengungsi itu bisa tinggal di Jerman. Apalagi, Kanselir Angela Merkel telah mengatakan bahwa umat Islam juga bagian dari Jerman.

Namun, bagi pengungsi Iran dan Afganistan menjadi Kristen bisa meningkatkan daya tawar mereka. Sebab, jika mereka dipulangkan mereka akan mendapatkan masalah karena sudah mengganti agama mereka.

Tentu saja, tak ada pengungsi yang mengaku mereka bersedia memeluk Kristen demi mendapatkan suaka di Jerman. Di sisi lain, beberapa dari pengungsi yang kini memeluk Kristen tak mau menyebutkan nama karena khawatir akan mendapat masalah di kampung halaman mereka.


Warga Suriah pasti diterima

Contoh lain adalah Vesam Heydari, juga asal Iran. Awalnya dia mencoba meminta suaka di Norwegia dan menjadi Kristen sejak 2009. Namun, permohonannya untuk tinggal di Norwegia ditolak karena pemerintah negeri itu tak percaya Vesam akan mengalami penindasan di Iran hanya karena dia beragama Kristen.

Ditolak di Norwegia, Vesam pindah ke Jerman untuk mendapatkan status pengungsi dan hingga kini masih menunggu keputusan pemerintah Jerman. Dia mengkritik banyaknya pengungsi Iran yang menjadi Kristen karena akan mempersulit peluangnya.

"Sebagian besar orang Iran di sini berganti agama bukan karena masalah kepercayaan. Mereka hanya ingin tinggal di Jerman," ujar Vesam.

Di sisi lain, banjir umat baru ini membuat para pemuka agama seperti Gottfried Martens tersenyum, sebab beberapa tahun belakangan banyak gereja di Jerman terus kehilangan umatnya.

Sebagai contoh, umat gereja yang dikelola Marten dalam dua tahun terakhir terus menyusut jumlahnya hingga hanya tersisa 150 orang saya. Nah, dengan kedatangan para pengungsi, umat Martin langsung meningkat menjadi 600 orang.

Komunitas Kristen lain di Jerman, seperti gereja Lutheran di Hannover dan Rhineland, juga dikabarkan mengalami peningkatan umat, setelah banyak pengungsi Iran memeluk Kristen dalam beberapa waktu terakhir.

Jerman saat ini sedang menghadapi banjir gelombang pengungsi yang di luar dugaan. Hingga akhir tahun ini diperkirakan 800.000 orang pengungsi dari Timur Tengah, Afrika dan Asia akan "menyerbu" Jerman.

Saat ini yang dipastikan mendapatkan suaka di Jerman adalah warga Suriah yang negaranya diamuk perang. Sementara, peluang bagi warga Iran dan Afganistan yang situasi negaranya jauh lebih stabil untuk tinggal di Jerman tak terlalu bagus.


(sumber:kompas)

Saturday, February 21, 2015

Menlu Australia Telpon JK Terkait Bantuan Tsunami Vs Bali Nine

Unknown     1:49 AM  No comments
Museum Tsunami Aceh
Museum Tsunami Aceh ( Banda Aceh)

Suaraunigha.co, Aceh
- 
Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop menghubungi Wakil Presiden RI Jusuf Kalla untuk mengklarifikasi pernyataan Perdana Menteri Australia Tony Abbott soal bantuan kemanusiaan Aceh. Bishop menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan itu tidak ada kaitannya dengan Bali Nine, dan hanya menunjukkan kedekatan hubungan antara Australia dan Indonesia.


“Tadi siang menelepon untuk mengklarifikasi bahwa apa yang beredar tentang pernyataan Perdaan Menteri Australia tentang bantuan kemanusiaan untuk Aceh itu tidak bermaksud untuk menghubungkannya dengan Bali Nine,” kata Kalla kepada Tempo, Kamis, 19 Februari 2015.



Dalam pembicaraan telepon pada sekitar pukul 12 selama kurang lebih 15 menit tersebut, Bishop mengungkapkan keinginan Australia untuk terus bekerja sama lebih erat dengan Indonesia di segala bidang. Termasuk kerja sama antarkepolisian untuk menanggulangi penyelundupan obat-obatan terlarang.



Meskipun tidak secara langsung meminta agar dua warga negaranya tidak dieksekusi mati, menurut Kalla, Bishop menyatakan memahami hukum Indonesia. “Namun dia tetap meminta pertimbangan bijak dari pemerintah Indonesia,” kata Kalla.



Kalla menyatakan terima kasih atas penjelasan Bishop dan menjelaskan bahwa proses hukum telah berjalan dan diputuskan oleh Mahkamah Agung. “Jadi pemerintah tidak bisa mengubahnya,” kata JK. 



Terkait penundaan eksekusi duo Bali Nine, Kalla menjelaskan kepada Bishop bahwa hal itu semata-mata karena masalah teknis.



Pada Rabu lalu, Abbott meminta Indonesia tidak melupakan sumbangan yang diberikan rakyat Australia dalam jumlah sangat besar saat tsunami menerjang sejumlah wilayah di Indonesia pada tahun 2004. “Saya ingin katakan kepada rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia, kami Australia selalu membantu Anda dan kami berharap Anda membalasnya saat ini," ujar Abbott seperti dikutip Sydney Morning Herald.



Pernyataan Abbott tersebut terkait dengan dua warga Australia yang dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan karena terlibat kasus narkoba, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

(Tempo,co)

Friday, February 6, 2015

Rencana El Salvador untuk Mengalahkan Gangs Harus Mulai Dengan Pemuda

Unknown     3:29 PM  No comments
El Salvador's Plan to Defeat Gangs Must Start With Youth
New America Media, Op-ed, Róger Lindo, Posted: 6 Februari 2015
 Tahun lalu, 70.000 anak-anak dan remaja dari Guatemala, El Salvador dan Honduras melarikan diri ke AS untuk melarikan diri dari Maras.


Suaraunigha,co - Media di negara Amerika Tengah El Salvador melaporkan baru-baru ini bahwa puluhan keluarga di komunitas pedesaan El Llano meninggalkan rumah mereka setelah anggota geng (lokal dikenal sebagai Maras) mengancam bahwa mereka akan "menghapus masyarakat" sebagai balasan atas berlindung anggota geng saingan.

Dua hari kemudian, warga Mejicanos, kelas pekerja kota utara dari San Salvador, mengatakan kepada polisi dan wartawan bahwa mereka telah menerima ancaman pembunuhan dari anggota geng. Selusin keluarga memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka.

Ini dan kasus-kasus lain menunjukkan adanya dalam El Salvador dari semakin banyak orang yang telah kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan, tidak seperti situasi perang. Ini adalah kenyataan yang menyedihkan di negara, yang, 23 tahun yang lalu, mengakhiri konflik 10 tahun yang meninggalkan perkiraan 75 ribu orang tewas. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, yang menghadiri upacara peringatan merayakan akhir pertumpahan darah itu, mengatakan bahwa ketidakamanan adalah salah satu tantangan yang masih tetap berada di El Salvador.

Tahun lalu, 70.000 anak-anak dan remaja dari Guatemala, El Salvador dan Honduras melarikan diri ke perbatasan selatan Amerika Serikat. Menurut berbagai kesaksian, sebagian besar dari mereka melakukan perjalanan ini untuk melarikan diri dari Maras.

Geng yang telah dikuasai El Salvador berasal Los Angeles, dan diekspor ke negara ini berkat kebijakan agresif deportasi. Karena kemiskinan kronis, dan kurangnya kesempatan ekonomi, anggota geng merasa mudah untuk merekrut anak-anak di kumuh dan bekerja masyarakat kelas. Mengabaikan daerah miskin dengan administrasi masa lalu dan sektor swasta, bersama dengan serangkaian kebijakan yang gagal, memungkinkan geng menguasai sebagian besar wilayah wilayah.

Pada tahap ini, geng telah menjadi begitu melekat di masyarakat miskin bahwa mereka termasuk ibu, anak, kakek dan cucu. Seluruh keluarga ikut serta dalam kejahatan seperti pemerasan dan penculikan.

Karena kurangnya sumber daya dan pelatihan, perlindungan polisi Salvador dapat memberikan warga negaranya sendiri terbatas. Dalam kasus El Llano, semua yang Polisi Sipil Nasional (PNC) hanya bisa menemani para pengungsi kembali ke rumah mereka sehingga mereka bisa mengambil beberapa barang yang mereka tinggalkan. Hal ini lebih mungkin bahwa di mana pun orang-orang ini berakhir, mereka tidak akan aman di sana juga.

Dengan berjalannya waktu, para Maras telah menjadi lebih berani. Beberapa minggu yang lalu, anggota geng yang bersenjata dipasang penghalang jalan di sepanjang salah satu jalan raya utama, dan menyerang pengendara di siang hari bolong.

Sejauh tahun ini, geng telah menewaskan tujuh polisi, dan banyak lainnya telah disergap. Menjadi seorang perwira polisi telah menjadi salah satu pekerjaan paling berbahaya di El Salvador. Hal ini ditunjukkan dalam sepotong op-ed yang ditulis oleh Duta Besar AS untuk El Salvador, Mari Carmen Aponte, yang berlari minggu ini.

Meninggalkan administrasi bersandar Presiden Salvador Sánchez Ceren tidak menawarkan solusi cepat atau murah baik. Roadmap pemerintah dirangkum dalam rencana 5 tahun diresmikan pekan lalu. Dokumen ini disusun oleh Dewan Nasional untuk Keamanan Umum dan Kekerasan, sebuah panel yang terdiri dari para pejabat dari beberapa kementerian, sektor bisnis, gereja, korps diplomatik, LSM, dan masyarakat sipil. Rencananya - ditandai dengan $ 2300000000 - mengandung campuran komponen: dari peningkatan kemampuan penegakan hukum dan perluasan sistem penjara, rehabilitasi penjahat.

Ini tidak akan menjadi tugas yang mudah. Geng diizinkan untuk tumbuh dan berkembang di seluruh negeri selama hampir dua dekade, dan tujuan utama harus untuk menetralkan kemampuan mereka untuk merekrut orang-orang muda. Di sinilah dampak utama dari program ini harus, dan tindakan harus didefinisikan sehingga kekuatan rencana dirasakan langsung. Pemerintah bisa fokus, misalnya, dalam mengubah sekolah menjadi tempat berlindung yang aman, di mana anak-anak dan anak-anak bisa bebas dari pengaruh geng, dan dididik dalam budaya belajar dan perdamaian.

Róger Lindo adalah reporter dan redaktur dengan La Opinión selama 20 tahun. Dia saat ini tinggal di El Salvador.

(http://newamericamedia.org/)

Text Widget

Recent news

About Us